Lila mengambil kain itu—halus, sedikit kotor, namun masih memancarkan rona hangat. Saat jemarinya menyentuhnya, ada kilat ingatan tentang tangan ibunya yang menenun, tentang tawa yang mengisi dapur kecil mereka. Hati Lila berdegup cepat; matanya berkaca-kaca.
Pak Arif memutar kunci kotak itu. Dari dalam terdengar melodi sederhana, seperti lagu yang pernah dinyanyikan ibu. Melodi itu menembus senja dan bergaung di antara padi, membuat setiap batang seolah menunduk hormat. Anak-anak berlari mengikuti irama, menari dengan selendang jingga di tangan. Wajah-wajah yang semula renta dan letih kini bersinar. jingga untuk sandyakala pdf upd
Minggu-minggu berlalu. Selendang jingga itu menjadi simbol baru Sandyakala —digantung di tengah lapangan saat upacara panen, dibawa saat kenduri, dan dikenakan saat ada tetamu. Warna jingga menyebar: kain, cat rumah, sulaman pada pakaian anak-anak. Namun yang paling penting, Jingga kembali menjadi janji yang diucapkan setiap sore ketika matahari hendak pergi: bahwa meski kehilangan mendalam, ada kebersamaan yang menenun pelan luka menjadi kain yang dapat melindungi. Lila mengambil kain itu—halus, sedikit kotor, namun masih
"Permisi," kata pria itu. "Saya mendengar ada yang ingin menenun kembali sesuatu yang hilang." Pak Arif memutar kunci kotak itu
Beberapa warga kampung yang lewat berhenti, melihat selendang jingga itu. Mereka teringat pada orang yang telah pergi, pada musim yang telah berganti. Seorang nenek menepuk pipi Lila, lalu menenun benang kecil lain ke dalam selendang—sebuah simbol bahwa kenangan tidak pernah benar-benar hilang selama ada yang mau mengingat dan merawatnya.